Health

#EnaknyaDiobrolin

Durex Ajak Konsumen Menormalisasi Perbincangan Seksual Dalam Rangka Hari AIDS Sedunia

Setelah meluncurkan hasil survei dengan fokus anak muda di tanggal 18 Juli 2019, Reckitt Benckiser (RB) sebuah perusahaan terkemuka untuk merek produk perlengkapan rumah tangga, perawatan kesehatan & pribadi, melalui merek kontrasepsinya, Durex, hari ini meluncurkan secara lengkap hasil survei perdananya terkait komunikasi kesehatan reproduksi dan edukasi seksual pada tiga profil konsumen yakni anak muda, orang tua, dan pasangan menikah. Acara peluncuran ini juga diadakan untuk menyambut Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2019 bersama sejumlah pemangku kepentingan seperti Kementerian Kesehatan, Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI), dan beberapa LSM.
 
Hasil lengkap Durex mengindikasikan bahwa terdapat aspek tabu dan stigma yang masih menjadi tantangan terbesar di kalangan tiga profil konsumen saat membicarakan kesehatan reproduksi dan edukasi seksual, tidak mengherangkan ditemukan sejumlah miskonsepsi pada penyakit menular seksual (PMS), khususnya HIV/AIDS seperti lebih dari 50% responden anak muda, orang tua, dan pasangan menikah percaya bahwa berciuman mampu menularkan penyakit HIV/AIDS. Dalam hal ini terkait dengan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2019, hasil survei juga mendukung tema yang telah diputuskan oleh Kementerian Kesehatan, “Bersama Masyarakat Meraih Sukses” untuk menghilangkan stigma dan mengontrol penyebaran HIV/AIDS di Indonesia.
 
“Apresiasi saya sampaikan kepada Direksi dan segenap jajaran Reckitt Benckiser Indonesia atas langkah dan upayanya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kesehatan reproduksi melalui edukasi seksual bagi konsumen Indonesia. Momentum yang dipilih juga sangat tepat, karena sekitar 2 minggu lagi kita akan memperingati Hari AIDS Sedunia pada tanggal 1 Desember 2019.” ujar dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Republik Indonesia. Lebih lanjut ia mengharapkan bahwa inisiatif ini akan memiliki keberlanjutan jangka panjang.
 

Berdasarkan hasil survei, beberapa topik yang jarang didiskusikan oleh ketiga profil konsumen meliputi:
 
  • Topik pernikahan di bawah 20 tahun termasuk risiko kesehatannya hanya dibicarakan oleh 38% responden remaja dan 20% responden orang tua.
  • Adanya tantangan komunikasi antara orang tua dengan anak yang diperlihatkan oleh 61% responden anak muda takut merasa dihakimi oleh orang tua, sedangkan 59% orang tua merasa khawatir jika mendiskusikan edukasi seksual seolah mengajarkan hubungan seks pra-nikah.
  • Topik penyakit menular seksual termasuk cara pencegahannya hanya dibicarakan oleh 35% responden pasangan menikah.
 
Bersamaan dengan peluncuran hasil survei lengkap ini, Durex RB Indonesia juga menyedikan kampanye Corporate Social Responsibility (CSR) yang bertujuan untuk menormalisasi perbincangan seksual dalam konteks ilmiah namun tetap ringan, bernama Eduka5eks – 5 langkah mudah memahami pengetahuan tentang kesehatan seksual dan reproduksi bersama Durex Indonesia. Di dalamnya terdapat lima langkah, yang setiap langkahnya memberikan rekomendasi yang jelas bagi anak muda, orang tua, dan pasangan menikah. Selain itu, Durex juga mendorong konsumen untuk secara proaktif berkonsultasi dan berpartisipasi dalam kampanye tersebut di media sosial dengan tagar #EnaknyaDiobrolin. Lima langkah tersebut meliputi:
 
  1. Ayo Pahami – Sikap terbuka untuk memperoleh lebih banyak informasi tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi
  2. Mari Bicara - Berani untuk memulai percakapan
  3. Saling Menghargai - Menghargai pendapat dan keputusan orang lain.
  4. Selalu Bertanggung jawab - Bertanggung jawab atas diri sendiri, pasangan kita, dan keluarga kita.
  5. Pemeriksaan Kesehatan – Mulai melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
 

 
“Memahami situasi ini, kami mendorong konsumen Indonesia untuk menormalisasi komunikasi kesehatan reproduksi dan edukasi seksual antara anak muda dengan orang tua serta pasangan menikah. Karena profil ketiganya saling berhubungan satu sama lain dan mampu memberikan dampak signifikan terhadap pencegahan dan pengendalian penyakit menular seksual, khususnya HIV/AIDS yang masih menjadi permasalahan pembangunan di Indonesia. Oleh karena itu, kami menyediakan Eduka5eks untuk menyediakan informasi yang kredibel sekaligus membawa perbincangan seksual dalam konteks ilmiah namun tetap ringan” ujar Srinivasan Appan, General Manager Reckitt Benckiser Indonesia.
 
Hadir dalam acara yang berlangsung pada 21 November 2019 di Jakarta ini, dr. Hanny Nilasari, SpKK, Ketua Umum Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI) menyebutkan, “IMS (infeksi menular seksual) adalah salah satu pintu masuk penularan HIV/AIDS. Selama ini usaha pencegahan telah dilakukan melalui kampanye dan edukasi pada populasi sehat terutama pada remaja. Menahan diri untuk tidak berisiko IMS merupakan hal wajib yang perlu digaungkan, agar bangsa Indonesia sehat dan menghasilkan generasi yang kuat. Mari beraksi cegah IMS mulai dari sekarang. Stigma bahwa HIV mudah menular juga perlu diluruskan, jauhi penyakitnya bukan penderitanya.”
 
Saat sesi talk show, dr. Helena Rahayu Wonoadi, Direktur CSR Reckitt Benckiser Indonesia mengatakan, “Kami akan berkolaborasi dengan beragam pemangku kepentingan terkait untuk membangun koalisi dalam kegiatan pemilihan duta mahasiswa dan tur di beberapa kampus guna menyelesaikan tantangan komunikasi kesehatan dan edukasi seksual di lingkungan sekitar anak muda. Bagi mahasiswa terpilih, kami akan menyediakan hadiah beasiswa.” Reckitt Benckiser (RB) Indonesia melalui Durex akan melanjutkan kegiatan pemberdayaan generasi muda di tahun depan dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan seperti pemerintah, asosiasi tenaga medis, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
 
Untuk informasi lebih lanjut tentang Eduka5eks kunjungi http://durex.co.id/Eduka5eks

 

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas