Membawa Singleton Menjadi Single Malt Nomor 2 di Indonesia

 

Beberapa waktu lalu Singleton Glen of Ord, produk Single Malt Whisky dari rangkaian Reserve Diageo memberikan kesempatan unik kepada pencinta whisky di Jakarta untuk menikmati Singleton   melalui Virtual Reality Tasting Immersion. djakarta.id berkesempatan untuk berbincang lebih lanjut dengan Kabir Suharan, Diageo Indonesia Commercial Head Reserve Brands, mengenai single malt pada umumnya dan posisi Singleton di Indonesia. Kabir Suharan warga Inggris berdarah India mulai bekerja di Diageo Inggris 8 tahun yang lalu, dan kini sudah 4 tahun bergabung dengan Diageo di Indonesia. Berikut cuplikan wawancaranya:

Apa perubahan yang Anda amati setelah mengikuti pasar Single Malt di Indonesia selama 4 tahun?


Saya melihat sejumlah perubahan, ke arah yang lebih baik tentunya, bukan hanya untuk Singleton, tapi juga untuk seluruh lini produk Reserve. Apresiasi terhadap makanan dan minuman bercitarasa tinggi berubah drastis dalam kurun waktu ini. Saat saya datang ke Indonesia, mungkin cocktail paling populer adalah Lychee Martini. Namun kini, terutamanya di bar-bar Jakarta, cocktail paling populer kemungkinan besar adalah Negroni, dengan Old Fashioned di Jakarta Pusat dan Selatan. Jangan salah, Lychee Martini adalah cocktail yang hebat, tapi ini menunjukkan semakin banyak orang lebih terbuka untuk mencoba yang lain. 

Saat saya datang, Singleton masih pada fase awal di pasar.  Kategori single malt juga masih kecil. Namun seiring waktu, semakin banyak brand dan jenis mulai hadir di pasar Indonesia. Single Malt kini menjadi salah satu minuman favorit di  bar-bar area Jakarta Pusat dan Selatan. Kalau saya berkunjung ke bar saya bisa melihat orang mulai mencoba dengan berbagai jenis dan rasa single malt. Ini adalah fenomena baik untuk kategori ini pada khususnya, maupun untuk industri keseluruhan pada umumnya. Jika pasar makin besar, setiap orang juga bisa mendapatkan bagian yang lebih besar.

Beberapa tahun lalu pangsa Singleton masih sangat kecil, namun kini kami adalah brand single malt dengan perkembangan tercepat di Indonesia. Dari perspektif negara, pasarnya memang masih relatif kecil. Pasar utama tetap Jakarta dengan permintaan sisa dari Bandung, Surabaya, Medan dan Bali. Walaupun kategorinya kecil, namun perkembangannya tinggi, oleh karena itu kita sangat optimis untuk masa depan. Juga kalau melihat pada tren global, kita semakin yakin bahwa pasar ini akan terus populer dan berkembang.

Apakah beda pasar Singleton di Indonesia dengan di negara lain?

Dari pandangan global secara umum Singleton  adalah whisky yang berimbang dengan baik dan sesuai dengan banyak citarasa. Ini berarti Singleton  cocok untuk penikmat whisky yang ingin merasakan citarasa single malt dan mulai memahaminya, namun belum bereksperimen lebih lanjut. Ini adalah cara terbaik untuk membawa mereka ke dunia single malt melalui brand seperti Singleton yang memiliki citarasa fruity, seimbang  dengan baik dan kaya rasa. Pasar Indonesia tidak beda dalam hal ini. Kini sudah tersedia banyak jenis single malt di Indonesia, termasuk yang bercitarasa smokey yang kental, namun ini masih sangat sedikit penggemarnya. Citarasa yang dimiliki Singleton  masih diutamakan karena pasarnya baru berkembang. Pasar ini baru mulai mencoba dan memahami single malt. Singleton juga menyediakan produk untuk penikmat yang mulai melangkah lebih lanjut. Sebagai contoh Singelton Signature ada di kisaran harga sama dengan Singleton 12YO, namun memiliki citarasa yang jauh lebih kompleks. Saya perkirakan dalam kurun waktu 3-4 tahun lagi para penikmat lebih cenderung mencoba whisky yang lebih memiliki rasa smokey, lebih kaya rasa atau lebih spicy.  Tapi untuk saat ini, yang lebih manis yang digemari, dan Singleton bisa memenuhinya.  

Secara global Singleton ada di lima besar brand single malt. Kelimanya ini memiliki kesamaan, yakni whisky yang manis dan mudah diterima. Single malt yang lebih smokey pasarnya selalu akan lebih keci, karena terlalu kuat dan smokey untuk kebanyakan orang. Ada tempat memang untuk whisky seperti ini di  Indonesia dan ke depannya akan hadir brand-brand baru yang akan bisa dinikmati sewaktu-waktu.

Mengapa Singleton dikatakan sebagai Single Malt paling smooth dan well-balanced?

Jika dikatakan sebagai paling smooth, memang ada bagian dalam proses produksi yang unik di Singleton dan tidak atau jarang ditemui di brand lainnya, yakni dalam proses fermentasi. Sebelum mencapai proses destilasi, umumnya barley yang telah malted ditambahkan ragi, dan dibiarkan berfermentasi untuk beberapa hari, umumnya 2 hari. Dalam proses Singleton, proses fermentasi ini dibiarkan selama sekitar lima hari yang menghasilkan cairan yang lebih smooth dengan citarasa yang lebih fruity.

Mengenai well-balanced ada di dalam maturasi yang terjadi dalam dua proses. Proses pertama dalam tong ek  bekas bourbon Amerika dan kemudian dalam tong ek Eropa. Dengan menggunakan kayu ek Amerika ada vanilin yang selanjutnya menghasilkan rasa vanili, kelapa dan sirup honey maple. Sedangkan di kayu ek Eropa yang merupakan bekas kayu ek Sherry ada tanin yang memberikan efek dry pada citarasa, ditambah rasa fruity serta dryness dan nuttyness. Singleton lebih banyak menggunakan ek Eropa dibandingkan ek Amerika.  Balance yang sempurna terjadi dalam proses maturasi ek Eropa dan Amerika.

Single Malt biasanya dikategorikan menurut umurnya, namun tidak ada umur yang tercantum di Singleton Signature. Apakah umur tidak penting lagi?

Preferensi terhadap single malt tergantung citarasa individual. Kadang harga, kadang juga citra brand yang disenangi konsumen. Namun yang lebih sering adalah citarasa. Ini harus diingat ketika berbicara mengenai pertanyaan umur.

Ketika berbicara mengenai Singleton Signature, pertama-tama kendati tidak tercantum umurnya, tidak berarti juga whisky ini tidak aged dan belum di-blend dengan whisky lain. Setiap single malt yang ada di pasar, terkecuali yang dinamakan cask whisky, adalah blended. Sebagai contoh di dalam Singleton 18,  whisky termuda yang ada dalam botol ini berumur 18 tahun. Bisa juga ada campuran yang berumur 19 tahun atau bahkan 20 tahun. Ini berlaku untuk semua brand.

Hal ini dilakukan untuk menjaga konsistensi. Botol yang diproduksi hari ini dibandingkan botol yang diproduksi lima tahun lalu, setiap produksi harus semirip mungkin dalam rasanya. Ini sulit dilakukan ketika terus terjadi perubahan iklim. Cara kayu dari tong berinteraksi dengan whisky berubah tergantung pada iklim.  Ini hanya salah satu faktor yang berpengaruh pada konsistensi. Oleh karena itu, selalu ada proses blending dalam single malt, kecuali pada whisky yang diproduksi sangat terbatas dengan kuantitas yang kecil juga dan dinamakan single cask. Single cask tidak menggunakan umur namun cask strength. Dari sudut pandang  Master Distiller, alasan jenis whisky ini tidak mencantumkan umur karena tujuan akhir adalah menghasilkan whisky yang tasty dan memenuhi tuntutan citarasa bagi sebagian kecil pencinta whisky. Singleton Signature juga diproduksi dalam jumlah kecil menggunakan kayu ek Amerika dan Eropa yang lebih muda yang menghasilkan rasa yang kompleks. Sekalipun harga ada di kisaran harga Singleton 12YO, Singleton Signature memberikan rasa paling kompleks di antara yang 12 dan 18 tahun.

Apakah kita akan melihat lebih banyak produk seperti Singleton Signature?

Pertama-tama harus dicatat bahwa untuk dinamakan Scotch Whisky harus berumur minimal 3 tahun. Produk seperti Singleton Signature terus akan bertambah karena dua faktor. Pertama dalam tahun-tahun belakangan ini terjadi peningkatan permintaan. Sebuah single malt berumur 12 tahun harus dibiarkan minimal selama 12 tahun, sementara permintaan terus bertambah maka persediaan semakin tidak bisa memenuhi permintaan ini.

Dari sudut pandang lain, pencinta whisky semakin cerdas dan menuntut citarasa tertentu. Sebagai contoh sekitar tiga tahun lalu tren di Indonesia adalah untuk minum whisky yang berumur 18 tahun, namun kini trennya beralih ke produk seperti Singleton Signature atau Macallan Fine Oak. Para pencinta tidak lagi memperhatikan umur, namun apa yang ada dalam dan citarasa dari whisky.

Istilah Signature biasanya merujuk pada “yang terbaik” atau “paling utama”, padahal Singleton Signature ada di kisaran harga Singleton 12YO

Alasan digunakannya “Signature” adalah karena Maureen Robinson, Master of Malt wanita yang jumlahnya hanya sedikit di industri scotch, secara pribadi mengawasi setiap whisky yang diproduksi. Oleh karena itu digunakan nama “Signature”, untuk menegaskan bahwa ada keterlibatannya dalam setiap botol yang dihasilkan. Dari sudut marketing, kembali pasar tidak hanya melihat hanya pada harga, namun lebih pada kenikmatan yang bisa diberikan. Singleton Signature adalah whisky yang indah yang bisa menandingi yang berumur 18 tahun, tapi kebetulan harganya saja yang lebih rendah.

Singleton sebagai produk yang tradisional kini memanfaatkan teknologi mutakhir seperti Virtual Reality Tasting Immersion. Sejauh mana perkembangan teknologi berpengaruh pada Singleton?

Saya tidak begitu faham pengaruhnya pada sisi produksi, namun dari sudut pandang teknologi, Singleton memanfaatkan teknologi mutakhir sebagai bagian dari gaya hidup. Contohnya Virtual Reality Tasting Immersion yang sudah kita perkenalkan kepada pencinta whisky di Jakarta. Bahkan di Singapura sudah menggunakan perangkat sensorian yang memanfaatkan semua indera, termasuk mencium wangi dari aromatheraphy sticks dan mendengarkan suara dari proses malting di penyulingan. Dengan demikian Singleton membawa produk sarat tradisi ke dunia kekinian yang sarat teknologi tinggi, dengan harapan para pencinta whisky tetap bisa memahami sejarah, tradisi dan kehebatan dari sebuah brand mewah, namun di saat bersamaan bisa menikmatinya dengan cara paling menarik dan inovatif melalui pemanfaatan teknologi.

Apakah rencana Singleton ke depan di Indonesia?

Jakarta memang pasar utama Singleton, dengan Surabaya yang terus berkembang.  Lewat pertengahan tahun akan digelar whisky tasting mentoring di Bandung, Medan, Bali, Semarang, dan Yogya dengan tujuan untuk mengajak pencinta whisky mencoba minuman hebat ini. Menurut rencana juga akan diperkenalkan dua varian baru, satu di kisaran harga premium dan satu di kisaran yang sama dengan Signature. Saat ini kami menduduki peringkat no 2 untuk pasaran single malt di Indonesia. Harapan saya di 3-4 tahun mendatang peringkat ini bisa diperbaiki. 

Anda mengawali karier kerja di Diageo 8 tahun lalu, 4 tahun di Inggris dan sekarang sudah 4 tahun di Indonesia. Apa yang membuat Anda betah dan bagaimana rencana masa depan Anda?

Saya mencintai brand-brand yang Diageo perkenalkan, bertemu berbagai pihak, termasuk customer, importir, distributor, media, dan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan orang-orang yang punya kesukaan yang sama terhadap dunia makanan dan minuman yang bermutu. Saya juga suka memasak dan bereksperimen membuat cocktail. Saya punya koleksi lima gitar dan bermain blues, sekalipun tidak pernah bermain dalam band, tapi cukup untuk menghibur tamu pribadi khusus saya. Saya senang tinggal di Indonesia, dan mungkin masih beberapa tahun dengan Diageo. Makanan, minuman dan musik adalah kesukaan saya. Entah ke mana masa depan akan membawa saya.

Terima kasih Kabir (Instagram @kabirsuharan) dan semoga makin sukses memperkenalkan Singleton di Indonesia.