
Dua Tren Ini Diprediksi Unilever Food Solutions (UFS) Jadi Masa Depan Kuliner Berikutnya
DJAKARTA.ID – Sejak dirilis 2023 lalu, “Future Menu” sukses mengidentifikasi tren-tren utama yang mendefinisikan dinamika industri layanan makanan secara global maupun lokal. Masuk ke pasar Asia Tenggara pada 2025, inisiatif tahunan Unilever Food Solutions (UFS) terbukti mampu mendukung para pelaku industri kuliner dalam menyajikan menu-menu yang tidak hanya on-trend, tetapi juga berpotensi mengubah lanskap kuliner di masa depan.
Tahun ini, UFS kembali menghadirkan “Future Menu 2026” melalui dua sorotan yang diprediksi akan menjadi tren masa depan kuliner Indonesia, yakni Culinary Roots dan Street Food Couture. Selain prediksi tersebut, UFS juga mengajak 19 Chefs terkemuka dalam kegiatan Culinary Trip selama dua bulan (Juni – Juli 2026) yang menjelajahi wilayah Jawa Tengan dan Jawa Timur. Perjalanan kuliner tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kreasi Future Menu Collaboration yang dijual di deretan restoran mitra UFS kali ini.
“Inisiatif ini bertujuan membantu memahami pergeseran preferensi konsumen dan implikasinya bagi para chef dan pelaku bisnis kuliner. Pemahaman tersebut dibangun melalui riset mendalam yang memadukan laporan industri, analisis tren media sosial, insight dari Chef UFS, feedback ratusan chef profesional, hingga observasi terhadap ratusan Gen Z di berbagai belahan dunia,” papar Raditya Beer sebagai Country Lead Marketing UFS Indonesia dalam acara perilisan "Future Menu 2026", Rabu (30/9/2026) yang berlangsung di SILK Bistro Pakubuwono.

Berangkat dari riset global tersebut, UFS melihat bahwa ada dua tren utama yang paling sejalan dengan dinamika preferensi konsumen Indonesia, yakni Culinary Roots dan Street Food Couture. Tingginya minat masyarakat Indonesia pada masakan rumahan sejalan dengan survei Jakpat di 2025 lalu. Data menyebutkan bahwa 61% masyarakat memilih makan di warung lokal. Sementara untuk jajanan, 58% dari mereka memilih pedagang kaki lima. Kedua fakta ini menjadi bukti bahwa kuliner yang dekat dengan keseharian itu sangat mendominasi pasar.
Terlebih lagi dengan adanya fenomena Snackpacking (Snacking & Backpacking) yang menjadi tren wisata 2026. Para pelancong, khususnya generasi muda mulai tertarik mencari beragam jajanan lokal, terutama makanan pedagang kaki lima (streetfood). Selain mencari cita rasa yang enak, mereka juga semakin tertarik pada pengalaman dan cerita di balik kuliner itu sendiri.
“Melalui Future Menu 2026 ini, kami ingin memberikan inspirasi nyata bagi para Chef dan pebisnis kuliner, ternyata masa depan kuliner Indonesia itu tidak harus dicari jauh-jauh. Justru kekayaan kuliner lokal adalah kekuatan yang dapat terus dieksplorasi menjadi pengalaman baru yang lebih elevated dan relevan dengan penikmat kuliner masa kini,” lanjut Raditya menambahkan.

Perjalanan kuliner 18 Chefs ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur mengunjungi 12 titik pemberhentian. Mereka berkesempatan memahami lebih dalam tentang cerita, karakter, bahan, serta teknik pengolahan masakan dari setiap daerah. Dipandu oleh Ade Putri selaku Culinary Storyteller, mereka berkunjung ke 12 titik kuliner yang begitu kaya dan beragam. Salah satu Chef yang turut membagi ceritanya adalah Chef Freddie Salim dari SILK Bistro.
“Culinary Trip ini memberikan perspektif yang lebih fresh tentang kuliner Indonesia dan membuka banyak kemungkinan baru untuk dieksplorasi. Terinspirasi dari sajian rumahan klasik khas Jawa Tengah yang saya temui di perjalanan, SILK Bistro mengembangkan Future Menu Collaboration bertema Homage to Home,” ungkap Chef Freddie.
Menu Future Menu Collaboration ini dapat dinikmati hingga bulan November 2026 di restoran mitra UFS. Restoran SILK Bistro menghadirkan Tahu Telur, Sate Srepeh, Beef Garang Asem, dan Ayam Bakar Kelopo. Restoran Dailah Sajian Kontemporer menyajikan Sate Kerbau Lilit dan Es Dawet Bango. Restoran Mata Karanjang hadir dengan hidangan Ikan Dasun Tuturuga. Restoran Umatis siap menyajikan Sate Gurita Serapah. Sementera restoran BEER HALL menghadirkan Pipi Sapi Sambal Tongkol dari BEER HALL.

Deretan menu ini juga tersedia di restoran ternama lainnya, seperti Serra Serri, GIOI, Akasta, Paras Nusantara, Bumi Aki Signature, TAMU, About All Day, Bakerzin, Brother Chang, Cork & Screw, Esa Restaurant, Kayu Manis, Mitte, Salira, Sate Khas Senayan, Semaja, The Bowery, dan Tide & Table.
“Akhirnya perjalanan ini memberikan ruang eksplorasi yang sangat luas bagi para Chef untuk tidak hanya menempatkan kekayaan kuliner lokal sebagai warisan yang perlu dirayakan, melainkan sebuah titik awal untuk berkreasi,” tutup Ade. Kisah perjalanan Culinary Trip ini bisa diakses gratis melalui melalui situs Unilever Food Solutions Indonesia sebagai referensi bagi lebih banyak pelaku industri kuliner untuk terus mengeksplorasi kekayaan rasa Nusantara. (aul)
Posting komentar