Optimisme di Era Pandemi

 

Di era Pandemi ini banyak usaha yang terpaksa tutup. Namun di tengah suasana ketidakpastian ini tetap ada semangat baru seperti dibukanya Tamarind & Lime, resto  di kawasan “Senoparty”. Salah satu figur di belakang Tamarind & Lime adalah Erness Shafitri yang sudah lama berkecimpung di dunia F&B Lifestyle, sebut saja Indochine, Immigrant, Bibliotheque, GIOI, dan Wolfgang Steakhouse. Ikuti wawancara djakarta!id dengan Erness sekitar optimismenya membuka Tamarind & Lime di tengah-tengah suasana PSBB transisi:

Jika sebelumnya berstatus karyawan, kini Erness menjadi salah satu pemilik. Apakah selama ini memang ingin memiliki usaha sendiri?
Banget! Latar belakang saya perhotelan dan pendikan sekretaris, dan awalnya cukup lama kerja di Forex. Saat itu saya sering hangout di Indochine, dan satu hari ngobrol dengan managernya, dan saya bilang kayaknya seru kerja di F&B, boleh ngak kerja di sini. Mulailah sejak tahun 2009 saya kerja di Indochine sebagai PR.

Di era Pandemi banyak usaha F&B tutup, tapi Tamarind & Lime malah mau buka?
Memang rencananya muncul sebelum Pandemi, baru cari lokasi, tiba-tiba muncul Pandemi. Tapi ya sudahlah tetap full out, tapi ada implikasinya seperti cost jadi bertambah. Kalau dari sisi operation, Tamarind & Lime sudah beroperasi penuh, tapi tentu menyesuaikan dengan protokol kesehatan, seperti seating dibatasi hanya 50%. Bahkan saat perpindahan waktu dari Lunch ke Dinner, kita melakukan fogging, dan nanti setelah Dinner sebelum closing kita fogging lagi.

Ini bicara kondisi sebelum Pandemi tentunya, beberapa tempat di mana Erness pernah kerja kini sudah tutup. Menurut Erness apa yang penting untuk kelangsungan usaha di bidang F&B ini.
Antara owner harus satu visi, harus kompak usaha ini akan dibawa ke mana. Tidak boleh masing owner menjadi desicion maker. Hanya ada satu decision maker yang mewakili semua. Jadi orang itu harus bisa menjembatani apa yang diinginkan oleh para owner, dan apa yang bisa dikerjakan oleh para karyawan. Para owner harus percaya pada orang yang menjadi wakil ini, dan tidak mudah dipengaruhi hanya karena bisikan dari teman. Jadi faktor trust juga penting.

Tamarind & Lime berlokasi di Jalan Suryo, area yang saking banyak outlet F&B lifestylenya kini dapat julukan “Senoparty”. Kenapa memilih lokasi yang sudah padat ini?
Kami memang sengaja mencari lokasi yang ada di kawasan ini. Kalau jalan Senopati memang cukup hektik, tapi kebetulan di lokasi jalan Suryo ini parkirnya lebih gampang dan tidak semacet sekitar jalan Senopati. Kepadatan outlet F&B ini sebenarnya sudah dimulai dari Jalan Gunawarman, lanjut ke Senopati dan Suryo. Kawasan ini dekat dengan perkantoran, termasuk kawasan SCBD. Kalau takut kompetisi ya ada, tapi karena kita sudah banyak pengalaman sebelumnya di dunia ini, jadi trik-triknya sudah kita fahami. Asal kuat di konsep dan tujuannya buat apa. Kalau tempat makan, ya makanan harus menjadi fokus, bisa bersaing tidak. Untuk minuman kami memiliki tim bar yang kuat untuk mengikuti trend.

Apakah konsep yang diusung oleh Tamarind & Lime?
Kami mengusung konsep Asian Bistro, yaitu Asian Food with a modern twist, atau Asian Fusion. Kita mengikuti trend, passion kita juga ada di situ, dan kita kuat di masing-masing tim. Makanan yang disajikan untuk konsumsi sehari-hari dan banyak porsi tersedia sharing, cocok untuk datang dan kumpul ramai-ramai. Untuk bar, pilihan cocktail dan mocktail kita lucu-lucu, instagramable sekali, ditambah promonya juga bagus-bagus. Sesuai dengan aturan PSBB transisi, saat ini sebagai hiburan kami sajikan live music, dan mudah-mudahan jika sudah diizinkan lagi juga ada performance dari DJ. 

Kira-kira bentuk usaha F&B apa yang bertahan usai Pandemi ini dan bagaimana Erness melihat fenomena munculnya Virtual atau Cloud Kitchen?
Untuk dine-in memang berkurang dan tetap melakukan take-away. Untuk usaha yang hanya mengandalkan virtual kitchen, ya asal mereka punya makanan yang kuat, cita rasanya bagaimana, dan harganya berapa, ya bisa hidup. Namun khusus di masa pandemi ini semua tidak selalu mudah. Sama dengan yang resto yang bisa bertahan saat ini, artinya dia resto yang kuat.

Fenomena sebelum Pandemi, banyak tempat makan akhirnya juga jadi tempat hangout dengan menyajikan live music dan DJ. Apakah era pergi ke bar, club atau lounge sudah berlalu?
Trendnya memang berubah, orang menikmati makan sambil mendengarkan musik. Mungkin ada kaitan dengan regenerasi juga. Generasi dulu yang suka ke club sampai pagi, sekarang lebih suka hangout dari sore hingga malam aja. Untuk anak mudanya trendnya juga ke sana. Jadi ada fenomena, duduk, makan, dengar musik, pulang.

Selama ini Erness bekerja lebih sering kerja di bidang F&B yang pulang pagi, apakah tidak capek?
Dulu saya masih muda dan single, jadi dalam pikiran hanya cari uang saja. Namun dengan bertambahnya umur dan kesehatan yang harus dijaga, saya sekarang mencari pekerjaan yang tetap lifestyle, tapi tidak pulang jam 4 pagi lagi. Restoran seperti ini dalam keadaan normal sekitar pukul 12 malam tutup. Apalagi lingkungan sekitar memang tidak memperbolehkan buka hingga terlalu larut malam. Jadi senangnya masih dapat.

Setelah tercapai cita-cita menjadi pemilik, apa yang ingin Erness raih selanjutnya?
Ini baru mulai, dan saya berawal dari pekerja, jadi harus membuktikan dulu bahwa sekolah yang bertahun-tahun itu memang berguna. Semoga ini menjadi tempat yang panjang umur dan memorable di kalangan kuliner lifestyle.

Erness punya motto dalam hidup?
Jangan pernah berhenti belajar!

Setelah selesai kerja, Erness kembali ke rumah yang baru dibangun di area Pondok Gede dan dihuni bersama anjing-anjing kesayangannya. Rumahnya masih belum sempat didandan, karena fokus utama Erness adalah menyukseskan Tamarind & Lime dulu.

Selamat untuk Erness dan sukses untuk Tamarind & Lime!