Resto/Cafe Bali

Luigis Memasuki Era Baru

Tetap Menjadi Luigis

Selama hampir satu dekade, Luigis telah menjadi salah satu ikon kuliner di Canggu, Bali. Dibangun dari kontainer dan dilengkapi oven pizza Acunto yang didatangkan langsung dari Napoli, Luigis hadir ketika Canggu masih jauh lebih sederhana dibanding sekarang. Seiring kawasan ini berkembang pesat, satu hal yang tidak pernah berubah adalah karakter Luigis. Tempat ini bukan sekadar pizzeria, tetapi ruang berkumpul yang telah menjadi bagian dari begitu banyak cerita, mulai dari makan malam hingga larut, turnamen bocce, kencan pertama, penerbangan yang terlewat, hingga malam Senin yang berakhir jauh lebih larut dari rencana. Karakter seperti ini tidak bisa diciptakan dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, dibentuk oleh orang-orang yang datang, kembali, dan menjadikan Luigis sebagai bagian dari keseharian mereka. Di tengah segala perubahan di Bali, Luigis tetap mempertahankan jati dirinya: tanpa formalitas yang berlebihan, tanpa aturan yang tidak perlu, hanya makanan yang dibuat dengan baik, minuman yang tak pernah habis, dan suasana yang selalu membuat orang ingin kembali.

Kini, setelah hampir sepuluh tahun, Luigis memasuki babak baru. Berbagai pembaruan dilakukan dengan matang, bukan untuk mengubah identitasnya, melainkan untuk semakin menegaskan apa yang selama ini membuat Luigis begitu dicintai. Karakter Italia-Amerika yang menjadi ciri khasnya tetap dipertahankan, terinspirasi dari kedai pizza ala New York, restoran klasik bergaya red sauce, hingga kedai kasual ala lingkungan sekitar yang mengutamakan kepribadian sama besarnya dengan kualitas hidangannya.

"Kami tidak pernah berniat mengubah apa yang sudah dicintai orang dari Luigis. Yang kami lakukan adalah menyempurnakannya. Mulai dari pizza Napoletana autentik dengan karakter khas Luigis, hingga menu yang merayakan pengaruh kuliner Italia di berbagai belahan dunia. Pada saat yang sama, kami juga tidak pernah melupakan hidangan-hidangan klasik seperti hero sandwich, burger, dan makanan yang memang dibuat untuk dinikmati bersama," ujar Executive Chef Lorenzo De Petris.

Pembaruan ini juga tercermin dalam menu terbaru Luigis yang dikembangkan oleh De Petris bersama pizzaiolo peraih penghargaan, Marcos Bonotto. Bonotto baru-baru ini menerima penghargaan 1 Slice dari Gambero Rosso International atas kontribusinya terhadap perkembangan pizza Italia di Bali. Bersama, keduanya semakin memperkuat identitas Italia-Amerika yang selama ini melekat kuat pada Luigis.

Filosofinya sederhana: hidangan yang dibuat untuk dinikmati bersama, saling dibagikan di meja, dan dipesan tanpa ragu. Pizza tetap menjadi jantung dari menu Luigis, menggunakan adonan yang difermentasi secara alami selama 24 jam dan dipanggang di oven Acunto khas Luigis yang didatangkan langsung dari Italia. Menu terbarunya memadukan hidangan favorit yang sudah dikenal dengan berbagai kreasi baru khas Luigis. Selain pilihan klasik seperti Queen Marg dan Pepperoni, tersedia pula berbagai kombinasi topping seperti smoked pancetta dan nanas, roasted pork belly, lemon potatoes, hingga rosemary. Sementara itu, kreasi favorit seperti Franks n Fries tetap hadir, memadukan comfort food dengan sentuhan guilty pleasure yang menjadi ciri khas Luigis.

Selain pizza, Luigis juga menghadirkan beragam comfort food khas Italia-Amerika. Grandpa's Meatballs disajikan dengan sugo tomat yang dimasak perlahan dan taburan parmesan, sementara Baked Rigatoni hadir dengan lapisan mozzarella dan ragu yang kaya rasa. Chopped Cheese Sub menjadi penghormatan bagi salah satu sandwich larut malam paling ikonik di New York. Hidangan lain seperti Tuna Crudo dan Dory Scaloppini dengan saus anggur putih, caper, dan mentega menghadirkan kesegaran sekaligus keseimbangan di atas meja. Apapun pilihannya, pendekatan Luigis tetap sama: porsi yang melimpah, cita rasa yang berani, dan makanan yang tidak pernah menganggap dirinya terlalu serius.

Di balik bar, kesederhanaan tetap menjadi prinsip utama. Program minuman yang dikurasi oleh Luca Marcolin (mantan Zuma Dubai) menghadirkan koktail yang mudah dinikmati, craft beer dingin, natural wine, serta minuman kalengan favorit khas Luigis. Tanpa ritual yang rumit ataupun garnish yang berlebihan, hanya minuman yang dibuat dengan baik untuk menemani setiap momen.

Pembaruan ini tidak hanya terlihat pada menu. Area restoran juga mengalami penyegaran dengan identitas visual baru, area pizzeria yang menghadap jalan, lantai bermotif kotak-kotak yang menjadi ciri khas Luigis, serta kursi booth yang lebih nyaman untuk meningkatkan pengalaman bersantap para tamu. Di luar area utama, taman rindang yang telah lama menjadi rumah bagi pertandingan bocce tetap dipertahankan sebagai bagian dari tradisi Luigis, tempat yang sempurna untuk menikmati bir dingin dan menghabiskan sore bersama teman. Suasana tersebut semakin hidup dengan alunan musik dari The Smiths, The Clash, hingga Kim Wilde, mengingatkan bahwa Luigis selalu mengikuti instingnya sendiri, bukan sekadar tren. Struktur dan jiwanya tetap sama, hanya kini hadir dengan sentuhan yang lebih matang bagi pelanggan setia maupun mereka yang baru pertama kali berkunjung.

Program mingguan yang telah menjadi favorit para tamu juga tetap dipertahankan. Senin menjadi milik Metto yang dipandu oleh PNNY. Rabu menghadirkan Pasta & Vino, tradisi pertengahan pekan dengan pasta segar buatan sendiri, anggur pilihan, dan suasana hangat untuk dinikmati bersama. Sementara itu, Jumat ditutup dengan penampilan deretan DJ pilihan yang membawa suasana dari makan malam hingga larut malam.

Luigis tidak berusaha menjadi tempat yang berbeda. Yang dilakukan hanyalah menyempurnakan apa yang selama ini membuatnya dicintai banyak orang.