Living Space

Lulu Amahu

Studio Hendro Hadinata bawa kerajinan tenun metal dari Sumba menyapa dunia modern

BEGITU kaya dan beragamnya budaya di Indonesia, banyak hasil budaya baik tribal maupun tradisional yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas. Salah satunya adalah tenun kawat dari Sumba yang lebih dikenal dengan Lulu Amahu. Sebuah keahlian turun temurun yang mulai dikenal di awal abad 20.

Kerajinan tribal yang menenun material kawat tembaga ini biasanya dibuat menjadi aksesoris seperti kalung, gelang, dan lain-lain sebagai hadiah bagi calon pengantin. Kerajinan yang mulai jarang dikuasai oleh generasi muda di Sumba ini berhasil menarik perhatian dan menggugah hati Hendro Hadinata. Menurutnya, Indonesia begitu kaya dengan filosofi dan nilai budaya yang banyak memberikan inspirasi bagi desain untuk masa kini.

“Sebagai desainer saya jadi tertantang untuk menemukan cara untuk bisa membawa seni kerajinan tribal tenun metal atau Lulu Amahu ini ke dunia modern,” jelas Hendro Hadinata, Chief Designer dari Studio Hendro Hadinata.

Desain kemudian menjadi penghubung antara sesuatu yang sangat tribal dan tradisional menjadi produk yang modern dan bisa hadir memberi makna dalam gaya hidup modern. “Salah satunya adalah membuat sesuatu yang simpel, fleksibel, dan bisa tampil kontemporer,” Hendro Hadinata menjelaskan strateginya. Dengan keyakinan itu, Hendro Hadinata lolos kurasi untuk memamerkan produk hasil karyanya (Eve Lamp) di Salone Satelite, bagian dari perhelatan akbar Salone del Mobile yang tahun ini dilaksanakan pada 7-12 Juni 2022 yang lalu. Dan yang paling akhir, karya ini bisa dinikmati di perhelatan ICAD 12 yang terbuka untuk umum hingga 27 November 2022.

Eve Lamp memanfaatkan tenun kawat stainless steel yang dibentuk seperti tube panjang dan fleksibel yang membalut lampu LED. Tampilannya yang modern, simpel, dan begitu fleksibel untuk dibentuk sesuai keinginan langsung menyita perhatian pengunjung pameran. Pameran yang memang diperuntukkan bagi desainer di bawah 35 tahun ini memberikan kesempatan bagi Hendro melihat respon dari pasar modern internasional pada desain dan aplikasi dari kerajinan tenun metal Lulu Amahu yang didesain untuk fungsi yang baru ini.

Fleksibilitas dari Eve Lamp ini kemudian kembali menginspirasi instalasi karya Hendro Hadinata berjudul “Dunia Bawah” untuk Bintaro Design District 2021 pada 14-24 September 2022 yang lalu. Inspirasi dari Sang Hyang Antaboga sebagai dewa dalam mitologi Jawa, Sunda, dan Bali ini kemudian menghadirkan pengalaman meruang melalui tubular dari anyaman kawat stainless steel yang membangun atraksi visual unik di area yang juga menjadi gerbang masuk ke Art Box, Bintaro. Melilit, mengitari, memutar dan mengekor menjadi perwujudan dari instalasi “Dunia Bawah” yang merepresentasikan dunia dimensi ke 4 di bawah bumi lapis ke 7 yang dipercaya menjadi tempat hidup Antaboga. Di instalasi ini Studio Hendro Hadinata mengeksplorasi mitologi dan filosofi sebagai konteks dan konsep dalam berkarya. Keseluruhan instalasi terbentuk dari tenun kawat sepanjang 89 meter dengan pengerjaan selama 24 minggu yang bisa dipercepat menjadi 4 minggu dengan menambah jumlah pengrajin.

“Meskipun material tenun kawat ini dibuat dengan tangan dan merupakan keahlian yang turun temurun sejak awal abad 20, tetapi dengan pengembangan melalui desain yang mengapresiasi tekstur dan fleksibilitas dari material ini, produk yang bisa dihasilkan justru bisa diterima oleh gaya desain apapun. Intervensi desain dan pengembangannya menjadi sebuah produk yang bisa diterima gaya hidup modern ini adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan para pengrajin. Dengan begitu keahlian untuk menenun kawat Lulu Amahu tidak begitu saja punah, “ papar Hendro Hadinata.

Hasil kerajinan tribal dari Sumba melalui desain Studio Hendro Hadinata terus berusaha untuk menyapa dunia modern dengan kembali diapresiasi oleh kuratorial Emerge@FIND 2022 di Singapore. Pavilion yang menjadi bagian dari pameran FIND Design Fair Asia yang terlaksana 21-23 September 2022 lalu kembali membuktikan bagaimana desain produk yang memanfaatkan material fleksibel dari hasil kerajinan tangan tribal para pengrajin Lulu Amahu dari Sumba ini mendapat apresiasi dari kuratorial dan juga pengunjung pameran.

Eve Lamp karya Studio Hendro Hadinata ini memberikan kesempatan kepada penggunanya untuk menyesuaikan kebutuhan. Dari panjang, diameter, dan juga bentuk simpulnya, desain lampu ini bisa diubah ketika mulai bosan. Selain itu, Studio Hendro Hadinata juga mengembangkan material anyaman kawat stainless steel ini untuk bentuk coffee table dan side table. Bersama dengan pengrajin mengembangkan pola anyam agar mendapatkan karakter material yang berbeda. Bukti desain yang mendengarkan dan melihat potensi materialnya akan mendapatkan alternatif dan ruang eksplorasi yang luas. Hal ini terbukti dengan apa yang dilakukan oleh Studio Hendro Hadinata dengan pengrajin Lulu Amahu dari Sumba.