Meningkatkan asupan makanan berbasis nabati untuk gaya hidup sehat yang berkelanjutan
KALAU judul tulisan ini terkesan agak berlebihan mungkin betul, namun sebenarnya tidak salah. Makan sepotong tempe tidak serta merta akan menyelamatkan bumi, namun setiap langkah sekecil apapun yang berkontribusi pada keberlanjutan harus diperhitungkan, termasuk meningkatkan asupan makanan berbasis nabati, yang selain sehat, juga berkontribusi pada keberlanjutan.
Jadi apa hubungannya antara makan tempe dan hidup sehat yang berkelanjutan? Jawaban atas hal ini terungkap dalam webinar bertemakan “Plant-Based Food as an Alternative for Sustainable Healthy Diets” yang digelar oleh Nutrifood sebagai rangkaian Nutriclass 2022 yang digelar Kamis, 27 Oktober 2022. Dalam kesempatan itu dihadirkan dua pembicara, Rendy Dijaya, Research & Health Educator Nutrifood Research Center, dan Dr. Amadeus Driando Ahnan-Winarno selaku CO-Founder & CTO Better Nature.
Dalam pemaparannya Rendy Dijaya mengungkapkan bahwa jenis pola makan dapat mendukung hidup berkelanjutan karena dipengaruhi oleh makanan yang kita konsumsi. Makanan yang berbeda dapat berdampak pada lingkungan, termasuk di dalamnya penggunaan air, emisi karbonnya, serta penggunaan lahan.
Lebih lanjut Rendy menjelaskan, “Sumber air lebih banyak digunakan oleh makanan hewani, sementara untuk sumber nabati relatif lebih kecil. Begitupun untuk emisi gas rumah kaca, sumber-sumber makanan hewani berkontribusi lebih banyak dalam emisi karbon. Dan akhirnya dilihat dari efektifitas penggunaan lahan menghasilkan lebih banyak untuk sumber-sumber nabati. Oleh karena itu untuk mendukung keberlanjutan sebisa mungkin kita menggunakan air, karbon, serta lahan agar bumi bisa berkelanjutan yaitu dengan mengadaptasi sustainable healthy diet."
“Sustainable healthy diet adalah semua pola diet yang promote selain kesehatan dan well-being, juga memberikan dampak lingkungan yang rendah. Selain itu juga harus terjangkau, equitable dan aman, serta bisa diterima dari sisi budaya. Jadi memang tidak semua pola diet bisa dikatakan sebagai sustainable healthy diets,” jelas Randy lebih lanjut.
Dr. Amadeus Driando Ahnan-Winarno adalah pembicara kedua dalam kesempatan webinar ini. Driandro, demikian panggilan akrabnya adalah ilmuwan, wirausahawan, dan aktivis pangan, khususnya dalam bidang per-tempe-an.
Dalam mencari gaya hidup pola makan yang se-keberlanjutan mungkin, Driandro telah melakukan riset yang merangkum banyak penelitian sebelumnya. Alasan seseorang mengadaptasi kebiasaan asupan makanan berbasis nabati adalah bisa karena alasan kesehatan, lingkungan, dan hewan. Sekalipun itu alasan pribadi, tapi kemudian akumulasi pribadi jadi masalah global karena diperkirakan dengan konsumsi dan produksi makanan seperti sekarang ini, laju ini tidak akan bisa ditahan oleh bumi dan badan kita pada tahun 2050, karena populasi manusia sudah bisa mencapai 10 milyar, air habis, serta lahan terbatas. Kalau yang dimakan tidak sehat, penyakit kronis juga meningkat. Inilah alasan diet makanan nabati meningkat dalam tahun-tahun terakhir ini.
Sustainable diet memiliki nutrisi yang lengkap dan mencakup enam point yaitu nabati, organik, lokal dan sesuai musim saja, diproses secara minim, diperdagangkan secara adil, dan punya kultur makan yang bisa dinikmati. Diet yang sehat belum tentu ramah lingkungan, dan sebaliknya, diet yang ramah lingkungan belum tentu sehat.
Bagan di atas menunjukkan bahwa pola makan nabati adalah pola makan yang sehat maupun berkelanjutan. Secara ilmu ada tiga manfaat dalam mengadopsi pola diet nabati, yaitu:
Sebuah lembaga yang bekerja dengan FAO, EAT Lancet, meneliti pola diet makan di 20 negara yang tergabung dalam G20 dengan membandingkan asupan makanan saat ini dengan asupan yang optimal berdasarkan batas Planetary Health Diet, yaitu pola makan yang menyehatkan dan ramah lingkungan. Ternyata hasilnya dari 20 negara G20, Indonesia justru yang paling mendekati batas Planetary Health Diet yang ideal. Apa rahasia Indonesia sehingga bisa ada pada level yang mendekati ideal ini? Pola makan masyarakat Indonesia saat ini bisa jadi jawabannya.
Jika di kebanyakan negara G20 sumber protein utama adalah daging, di Indonesia sumber protein terbesar justru adalah tempe. Masyarakat Indonesia rata-rata konsumsi 7kg tempe per tahun. Lebih besar dari daging, telur, dan tahu, serta memenuhi 10% kebutuhan harian protein. Dibandingkan dengan daging, tempe memang tidak kalah dalam banyak hal. Tempe memberikan protein, zat besi, energy sama seperti daging, namun dengan serat dan kalsium lebih banyak, dan lemak jenuh dan garam yang lebih sedikit.
Dari segi ramah lingkungan, produksi tempe lebih hemat energi 4x, lebih hemat emisi 20x, dan 8x lebih murah dibandingkan daging. Fermentasi tempe menurunkan kadar anti-nutrient, toksins, dan allergens, sementara antara lain meningkatkan kadar Bioactive Compounds, Protein Content dan Bioavailability, Free Fatty Acids, termasuk vitamin B 12 yang jarang ada dalam asupan nabati. Sebenarnya kedelai hanya salah satu bahan yang bisa difermentasi jadi tempe. Manfaat kesehatan tempe banyak sekali yang semuanya pada dasarnya mengerucut pada Isoflavone Bioavailability. Ada kesalafahaman pada phytoestrogen yang dihasilkan dan disamakan dengan estrogen, sehingga menimbulkan asumsi tempe bisa menurunkan kesuburan laki-laki atau mengganggu sistem hormonnya. Padahal phytoestrogen tidak sama dengan estrogen, hanya bentuk molekulnya yang mirip.
Sebagai penutup, Diandro mengajak untuk mengadopsi pola makan yang berkelanjutan melalui asupan nabati yang lokal dan disukai. Ajakan ini dilakukan Diandro tidak hanya melalui inovasi dan promosi tempe sebagai makanan asli Indonesia melalui Indonesia Tempeh Movement, baik di dalam maupun hingga ke luar negeri, namun juga melalui Better Nature, sebuah food-tech startup yang berbasis di Inggris.
Act Globally. Think Locally. Choose Wisely.
Better Nature Tempeh Taste Test with Max La Manna
Posting komentar