Health

Shingles Action Week 2026

Cegah Cacar Api tanpa Tapi, Lindungi Diri Sekarang Juga!

DJAKARTA.ID – Pada momen World Immunization Week (24–30 April 2026) dan Shingles Action Week kemarin, pemerintah bersama para ahli kembali mengingatkan bahayanya tentang Cacar Api (shingles). Penyakit ini bukan penyakit sepele, terutama bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun dan penderita sakit kronis lainnya. Selain gatal dan menyebabkan ruam, penyintas Cacar Api akan merasakan nyeri seperti ditusuk jarum hingga kesulitan beraktivitas.

Komplikasi dari penyakit Cacar Api juga berdampak dalam jangka panjang, yakni Neuralgia pasca herpetik (NPH). Sebuah nyeri saraf kronis yang berlangsung berbulan-bulan hingga tahunan akibat virus herpes zoster setelah ruam sembuh. Risiko paparan Cacar Api juga semakin tinggi pada mereka yang memiliki penyakit kronis, seperti meningkat 34% pada penderita sakit jantung, ginjal kronis 29%, diabetes 38%, PPOK/asma sampai 41%, stres, riwayat keluarga, HIV/AIDS, kanker, dan autoimun.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Yayasan Jantung Indonesia, dan GSK Indonesia mendorong penguatan pencegahan Cacar Api melalui pendekatan lintas sektor, seiring dengan pergeseran fokus kampanye ke arah tindakan preventif yang nyata.

"Melalui sinergi berbagai pihak, upaya pencegahan penyakit cacar api diharapkan dapat semakin kuat guna melindungi kesehatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Hadirnya Shingles Action Week ini mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengambil peran aktif dalam pencegahan Cacar Api, mulai dari pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum yang menjadi caregiver," ungkap Reswita Dery Gisriani, Director of Market Access, Communication and Government Affairs GSK Indonesia.

Selain itu, GSK Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia juga akan meresmikan HeartShield sebagai preventif bagi pasien kardiovaskular. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan mendorong langkah pencegahan terhadap Cacar Api, mengingat pasien dengan penyakit jantung memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi dan komplikasi.

Sebelumnya, GSK Indonesia telah meluncurkan website kenalicacarapi.com sebagai edukasi terhadap pasien, informasi komprehensif, dan kisah pasien. Selain itu, merilis fitur penilaian risiko mandiri di cekrisikocacarapi.com, pemanfaatan chatbot berbasis WhatsApp bernama KECAPI sebagai informasi tepercaya memahami Cacar Api, serta kampanye “Ayo Kita Vaksin” (@ayokitavaksin) di media sosial.

“Pencegahan Cacar Api sama pentingnya dengan menjaga kesehatan jantung. Pasien dengan penyakit jantung perlu mendapatkan edukasi agar terhindar dari risiko infeksi yang dapat memperburuk kondisi jantung. Kondisi jantung yang sudah melemah dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, termasuk Cacar Api," terang Dr. Ade Meidian Ambari, Sp. JP(K), PhD, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI).

Sementara Iwet Ramadan sebagai Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia turut menambahkan mengenai pentingnya komunikasi yang jelas dan penuh empati terhadap pasien dan keluarga. Melalui edukasi yang mudah diakses oleh masyarakat luas, harapannya dapat menghindari risiko terpapar penyakit Cacar Api dan keputusan yang tepat dapat diambil.

"Jantung dan daya tahan tubuh perlu dijaga. Jangan ragu bertanya kepada dokter. Selalu ingat bahwa perlindungan diri dari penyakit yang dapat dicegah merupakan bentuk cinta sejati kita kepada keluarga," tutup Iwet. (aul)