
IWAN TIRTA Peragakan 50 Koleksi Busana Pria dan Wanita di Gedung Kesenian Jakarta
DJAKARTA.ID - Karya batik sang maestro IWAN TIRTA kembali hadir dalam peragaan 50 koleksi busana pria dan wanita melalui SMERTI: Runway 2027. Acara ini berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada Rabu (7/10/2026). Melalui koleksi batik terbarunya, IWAN TIRTA tidak hanya menghadirkan busana, tetapi juga membuka ruang agar batik terus dibaca, dikenakan, dan dialami melalui cara-cara baru.
SMERTI menjadi pengingat bahwa warisan tidak pernah berhenti pada masa lalu. Ia tetap hidup ketika terus bergerak, ditafsirkan, dan diberi ruang untuk menemukan bentuk baru. Bagi IWAN TIRTA, batik bukan sekadar sesuatu yang diterima dari generasi sebelumnya, melainkan bahasa yang harus terus dikembangkan dan dihadirkan sesuai dengan zamannya.
“Karya dan pemikiran IWAN TIRTA memberikan pijakan bagi kami untuk terus mengeksplorasi kemungkinan batik dalam konteks hari ini. Bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan berupaya meneruskan semangat penciptaannya dalam bentuk yang baru,” ujar Widiyana Sudirman selaku CEO IWAN TIRTA.

IWAN TIRTA merupakan salah satu jenama fesyen lokal mewah yang diprakarsai sosok mendiang Iwan Tirta (1935 - 2010). Melalui repositori luasnya yang mencakup lebih dari 13.000 pola batik warisan, rumah busana ini senantiasa merajut kembali kekayaan warisan budaya Indonesia demi memenuhi kepekaan modern.
IWAN TIRTA menampilkan 50 busana batik untuk pria dan wanita yang memadukan konstruksi terukur dengan garis serta pergerakan lebih lembut. Batiknya berbahan 100% katun dan material TENCEL™, koleksi ini dilengkapi dengan styling items berbahan sutra dan denim. Perpaduan siluet, material, dan tekstur tersebut menghadirkan interpretasi kontemporer atas batik dalam beragam bentuk busana.
Koleksi SMERTI juga menggali kembali sejumlah motif dari khazanah IWAN TIRTA yang merekam hubungan antara manusia dan semesta. Layaknya memori, motif-motif tersebut tidak dihadirkan sebagai pengulangan dari masa lalu, melainkan ditafsirkan kembali melalui perubahan skala, komposisi, repetisi, serta penempatan yang memberikan ritme dan perspektif baru.

SMERTI ini juga menjadi momen pertama bagi GKJ sebagai venue peragaan busana. Selama ini GKJ seringkali dimanfaatkan sebagai panggung konser musik, pertunjukan tari, pementasan teater, hingga pertunjukan budaya dan kesenian lainnya. Gedung bergaya empire tersebut dibangun pada zaman kolonial Belanda (1821) dengan nama Theater Schouwburg Weltevreden.
Shadtoto Prasetio sebagai Art Director berhasil menerjemahkan narasi koleksi SMERTI ke dalam nuansa artistik GKJ. Ia sukses menghadirkan runway karya IWAN TIRTA dengan kesan mewah, elegan, namun terasa klasik. Melalui penataan visual, tata panggung, pergerakan model, pencahayaan, hingga ritme pertunjukan yang hanya berdurasi kurang lebih tiga puluh menit tersebut.

“Kami tidak ingin sekadar memindahkan format runway ke dalam gedung pertunjukan, tetapi bisa membangun presentasi yang merespons karakter dari GKJ. Ruang ini menjadi bagian dari pengalaman serta membentuk cara koleksi dilihat dan dirasakan,” turup Shadtoto. (aul)
Posting komentar